Tokyo dan Aliran-Aliran Filsafat:
1. Rasionalisme
Aliran rasionalisme berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya adalah rasio ( akal ).
a. Rene Descrates ( 1596-1650)
“ Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan kesesatan-kesesatan yang agung maupun kebajikan-kebajikan yang agung”- Descraes
Beliau dijuluki sebagai bapak filsafat modern, semula beliu belajar di sekolah Yesuit dan ia belajar ilmu hukum, ilmu kedokteran dan ilmu alam.
Tentang ilmu pengetahuan beliau berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu haruslah satu, tanpa bandingnya serta harus disusum menurut satu orang sebagai suatu bangunan yang seluruhnya berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Sedangakn menurut beliau bahwa sesuatu itu dapat dipandang benar bila sesuatu itu jelas dan dapat dapat dipilah-pilah ( clear and distinctly ). Artinya, antara gagasan atau ide yang satu dengan lainnya dapat dibedakan dengan persis.
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa yang harus dipandang sebagai yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. Apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tidak mungkin didapakan dari apa yang berada di luar kita. Coba kita perhatikan lilin dan sarang madu. Jika kita mengamati senuah sarang madu ada beberapa hal yang tampak pada indra kita : lidah kita merasakan madunya, hidung kita mencium bau bunganya, mata kita melihat rupa dan warnanya, jari kita merasa kerasnya dan dinginnya. Akan tetapi jika sarang madu itu kita letakkan di atas suatu wadah yang berada di atas api, sifat-sifatnya berubah, seklaipun lilinnya tetap ada. Sifat-sifat itu sekarang cair, lunak, lemah, mudah dilentur, dan lain sebagainya. Jsdi yang tampak, yang dapat kita amati itu bukanlah lilin itu sendiri. Adanya lilin kita ketahui melalui rasio. Maka benda itu yang ada pada dirinya tidak dapat diamati. Sebab benda itu dengan cara yang sama tercakup dalam segala penampakkannya. Pengetahuan kita tentang lilin tadi bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan atau sentuhan atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan rasio.
Menutrut beliu apa yang kita duga dan kita lihat hanya dapat diketahui oleh penilaian dan penilaian itu datang dari rasio atau akal. Pengetahuan melalui indra adalah kabur.
Dalam mencari kebenaran Descrates berangkat melalui keraguan atau meragukan sesuatu itu. Nampaknya Decrates di sini mengajak kita untuk selalu berpikir dan meninggalkan hal-hal yang bersifat khayalan. Mengajak kita untuk selalu sadar akan kejadian yang terjadi di sekitar kita dengan cara meragukan kejadian itu. Karena boleh jadi kejadian itu hanya khayalan kita semata. Semuanya itu harus dengan sadar kita pandang sebagai sesuatu yang tidak pasti:
a. segala sesuatu yang telah kita dapatkan di dalam kesadar kita sendiri, karena mungkin sekali hanya khayalan kita atau hasil tipuan roh jahat, dan
b. apa yang telah kita dapatkan dan kita telah pandang sebagai suatu kebenaran dan pasti, seperti apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan dan pengajaran.
Menurut beliau pangkal pemikiran yang pasti itu adalah dengan melalui keragu-raguan. Hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan. Mengenai satu hal ini tidak ada seorangpun yang dapat menipu kita, juga iblis tidak dapat, yaitu: bahwa aku ragu-ragu ( aku meragukan segala sesuatu ). Aku ragu-ragu atau aku berpikir dan oleh karena aku berpikir, maka aku ada ( cogito ergo sum ). Memang apa saja yang saya pikirkan dapat saja suatu khayalan, akan tetapi bahwa aku berpikir bukanlah khyalan. Tiada seorang pun yang dapat menipu saya, bahwa saya berpikir, dan oleh karena itu da dalam hal brpikir ini saya ragu-ragu, maka aku berada.
Ajaran Descrates tentang manusia sesuai dengan pandangannya yang dualistis, yang diturunkan dari asas metafisis.
Jiwa adalah subtansi yang tunggal, yang tidak bersifat bendawi dan tidak dapat mati. Jiwa memiliki pemikiran sebagai sifat asasinya. Yang termasuk pemikiran adalah segala Sesuatu yang terjadi di dalam diri manusia dengan sepengetahuannya, yaitu segala perbuatan pengenalan indrawi, khayalan , akal , kehendak. Sifat hakiki pemikiran adalah kesadaran.
Sumbangan Descrates pada pemikiran modern ini adalah idealism dan positivisme.
a. Baruch Spinoza ( 1632-1677)
Beliau seorang Yahudi , karena pandangannya yang terlalu liberal dikucilkan dari Sinagoge (1656 ).
Rasionalismenya lebih luas dan lebih konsekuen dibanding rasionalisme Descrates. Baginya di dunia ini tidak ada yang bersifat rahasia, karena akal atau rasio masusia telah mencakup segala sesuatu, juga Allah, bahkan Allah menjadi sasaran akal yang terpenting.
Bagi Spinoza hanya ada satu subtansi. Yang dimaksud dengan subtansi itu adalah apa yang ada dalam dirinya sendiri dan yang mengalaskan pengertian yang mengenai yang ada pada dirinya, artinya yang pengertiannya tidak memerlukan pengertian dari sesuatu yang lain dengannya ia harus dibentuk. Jadi subtansi itu adalah sesuatu yang berdiri sendiri, yang tidak bergatung kepada apapun juga yang lain. Subtansi yang demikian itu tentu hanya ada satu, sebab seandainya ada dua subtansi semacam itu, tentu aka nada nisbah antara keduanya. Padahal pengertian nisbah mengandung di dalamnya pengertian ketergantungan. Subtansi yang satu itu adalah Allah yang Esa tiada batas secara mutlak.
Tentang Tuhan antara Descrates dan Spinoza berbeda ; bagi Descrates Tuhan adalah yang menciptakan segalanya sedangkan menurut Spinoza bahwasanya Tuhan itu kesatuan umum, yang mengungkapkan diri di dunia ini. Segala yang ada adalah Tuhan/Allah, tiada sesuatu pun yang tidak tercakup di dalam Allah dan tiada satu pun dapat berada tanpa Allah.
2. Empirisme
Aliran empirisme berkata bahwa pengalaman adalah sumber pengalama. Orang pertama pada abad 17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah THOMAS HOBBES ( 1588-1679), yang mendapat pendidikannya di Oxford.
Hobes telah menyusun suatu system yang lengkap. Ia berpangkal kepada empirisme secara konsekuen. Sekali pun ia berpangkal pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dan rasionalisme matematis.
Filsafat Hobes mewujudkan suatu system yang lengkap mengenai keterangan tentag “yang ada” secara mekanis. Ia adalah seorang materialis yang pertama dalam filsafat modern. Dapat dikatakan, bahwa ia adalah seorang materialis di bidang ajaran tentang yang ada dan seorang naturalis ajaran tentang antropologi, serta seorang absolutis di bidang ajaran tentang agama.
Materialism yang dianut Hobes adalah demikian, bahwa segala yang ada bersifat bendawi. Yang dimaksud dengan bendawi ialah segala sesuatu yang tidak bergantung kepada gagasan kita.
Juga diajarkan, bahwa segala kejadian adalah gerak, yang berlangsung karena keharusan. Realitas segala yang bersifat bendawi , yaitu yang itdak bergantung kepada gagasan kita, terhisab di dalam gerak itu.
Berdasarkan pandangannya bahwa manusia tidaklah lebih dari pada suatu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Oleh karena itu maka segala sesuatu yang terjadi padanya dapat diterangkan dengan cara yang sama dengan cara menerangkan kejadian-kejadian alamiah, yaitu secara mekanis. Manusia hidup selama darahnya beredar dan jantung bekerja, yang disebabkan karena mekanis dari hawa atmosfir. Hidup manusia adalah gerak anggota-anggota tubuhnya. Jiwa adalah kompleks dari proses-proses mekanis dalam tubuh. Awal bukanlah pembawaan , melainkan hasil perkembangan karena kerajinan.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena pengalaman. Pengalaman adalah awal segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Hanya pengalamanlah yang akan member jaminan akan kepastian.
Yang disebut pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas segala pengamatan, yang disimpan dalam ingatan dan digabungkan dengan duatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lampau.
Pengamatan indrawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indra kita. Gerak ini diteruskan ke otak dan dari otak dilanjutkan ke jantung. Di dalam jantung terjadilah reaksi, suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya . pengamatan yang sebenarnya terjadi pada awal reaksi tadi. Dan sasaran pengamatan adalah sifat-sifat indrawi.
Kemudian tradisi empiris dilanjutkan oleh :
JOHN LOCKE (1632-1704)
Beliau adalah seorang yang mengabungkan teori empirisme dengan teori rasionalisme, penggabungan ini menguntungkan empirisme. Ia menantang teori rasionalisme yang mengenai ide-ide dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia akal adalah pasif pada saat pengetahuan didapatakan. Akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Semula akal serupa dengan secari kertas yang tanpa tulisan, yang menerima segala sesuatu yang datang dari pengalaman. Locke tidak membedakan antara pengetahuan indrawi dan pengetahuan akali. Satu-satunya sasaran atau obyek pengetahuan adalah gagasan-gagasan tau ide-ide, yang timbulnya karena pengalaman lahiriyah dank arena pengalaman batiniyah. Pengalaman lahiriyah mengejarkan kepada kita tentang hal-hal yang di luar kita, sedangkan pengalaman batiniyah mengajarkan kepada kita tentang keadaan psikis kita sendiri. Kedua macam pengalaman ini jalin menjalin. Pengalaman lahiriyah menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengalaman batiniyah, artinya ; obyek-obyek itu tampil da dalam kesadaran. Dengan demikian mengenal adalah identik dengan mengenal secara sadar.
GEORGE BERKELEY ( 1685-1753 )
Geroge Berkeley hidup sampai separuh pertama abad ke 18. Dia adalah kelahiran Irlandia. Dia belajar di Kilkenny School dan Tinity College dan dipandang sebagai mahasiswa yang brilian, sehingga di usia muda dia sudah member kuliah dalam bahasa Yunani di Trinity College.
Meskipun sangat kental dipengaruhi Locke, Berkeley mengkritik pengandaian-pengandaian dasar Locke. Dia menolak adanya ide-ide abstrak yang ditarik dari objek-objek konkrit. Misalnya; ide lingkaran disimpulkan dari lingkaran-lingkaran konkret. Menurut Bekely, kalau yang diacu oleh Locke sebagai lingkaran bukanlah lingkaran sebagai objek di luar kesadaran kita, melainkam yang diacu adalah idea lingkaran itu sendiri. Locke membedakan antara pengalaman dan ide sedangkan Berkely tidak setuju dengan hal ini, menurut dia antara pengalaman dan ide adalah satu dan sama. Dengn cara itu pula persepsi, citra dan ide adalah sama dengan pengalaman.
Esse est Percipi
Menurut Berkeley, suatu objek ada berarti objek itu dapat dipersepsi oleh pikiran kita. Segala pandangan metafisis tentang adanya kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dipersepsi oleh pikiran kita adalah omong kosong. Terkenal dengan ucapan Berkely “Esse est Percipi” ( being is being perceived ). Artinya adalah adanya dunia material sama saja dengan ide-ide kita sendiri atau lebih singkat duniaku adalah duniaku.
DAVID HUME ( 1711-1776 )
“Rasio adalah budak nafsu”
David Hume lahir pada tanggal 7 mei di Edinburgh dan pada awalnya beliu belajar hukum namun setelah itu beliau pindah dari hukum ke filsafat.
Pertempuran Filosofis dalam pikiran Hume
Banyak orang menyalahpahami pandangan –pandangan Hume, seolah-olah di ingin menghancurkan filsafat. Sebenarnya ingin melengkapi filsafat dengan sebuah metode ilmiah yang rigorus dan dalam usaha berani itu dia mengambil sikap skeptic.
Skeptisme mendasar dalam pikiran Hume dapat dilukiskan sebagai serangan terhadap tiga front pemikiran. Pertama Hume ingin melawan ajaran-ajaran yang rasionalistis tentang ide-ide bawaan serta anggapannya bahwa jagad terdiri dari sebuah keseluruhan yang saling bertautan. Dalam hal ini dia setuju dengan pandangan Berkeley dan Locke. Kedua, Hume menyerang pemikiran-pemikiran religious, entah dari Katolik, Anglingkan, maupun dari penganut deisme yang percaya bahwa Allah membiarkan alam semesta berjalan mekanis tanpa campur tangannya. Ketiga, Hume menyerang empirisme sendiri yang masih percaya pada adanya subtansi.
Dalam soal pengenalan ia mengajarkan, bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan ke dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal, yaitu : kesan-kesan dan pengertian atau ide-ide. Yang dimaksud dengan pesan-pesan adalah pengamatan yang langsung diterima dari pengalaman , baik pengalaman lahiriyah maupu pengalaman batiniyah yang menapakkan diri dengan jelas, hidup dan kuat. Yang dimaksud dengan pengertian atau ide-ide adalah gambaran tentang pengamatan yang redup, samar-samar, yang dihasilkan dengan menuangkan kembali atau merepleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang telah diterima dari pengalaman. Ide kurang jelas, kurang hidup, jika dibandingkankan dengan kesan-kesan. Ide atau pengertian adalah tembusan atau kopian dari kesan-kesan.
3. IDEALISME
1. G. W. F. HEGEL ( 1770-1831 )
Ia seorang Filosof Jerman yang lahir pada 1770 di Stuttgard. Hidup Hegel tidak dipenuhi oleh kejaadian-kejadian yang menonjol. Pengaruhnya begitu besar hingga di luar Jerman.
Suatu topic yang kerap dilewati kalau kita membcarakan idealisme Hegel adalah karya-karya teologis awalnya. Merskipun tidak bisa dianggap sebagai titik tolak filsafatnya, minat ini mewarnai filsafatnya di kemudian hari. Yang dimaksud di sini adalah usaha Hegel untuk memulihkan kesatuan asali yang lenyap dalam agama Kristen.
Dalam pendangannya tentang agama, Hegel mempersoalkan paham agama yang disebarkan oleh pencerahan, yaitu bahwa agama Kristen adalah sebuah agama yang rasional. Menurutnya agama rasional macam itu justru membuat para penganutnya tercabut dari kebudayaan Jerman.
Teori Aliensi
Dalam die Positivitat der christlichen Religion, Hegel menjelaskan mengapa agama Kristen berubah menjadi agama yang rasional tetapi juga otoriter. Dalam gereja perdana, dibayangkannya ada sebuah komunitas etis. Di sana penganutnya menghayati apa yang diyakininya dari dalam. Konsep kesusilaan yang nanti dikembangkan Hegel bersumber pada gereja perdana ini. Akan tetapi, melalui ajaran-ajaran para rasul dan murid-murid Kristus, penghayatan personal itu mulai diatur sehingga orang mulai terasing dari dirinya yang otentik.
Raibnya kesatuan primordial
Menurut Hegel anatara Allah dan manusia, antara yang tak terbatas dan yang terbats pada hakikatnya adalah sebuah kesatuan yang utuh, tetapi dalam perealisasian sejarahnya selalu saja muncul problem aliansi dan oposisi di antara keduanya.
Mengatasi oposisi dengan spekulasi Filosofis
Hegel berpendapat bahwa tujuan filsafat adalah mengatasi oposisi. Dalam pengalaman sehari-hari pikiran kita hanya menangkap kemajemukan, pertentangn, kontradiksi dst. Misalnya, menghadapi soal dualisme jiwa dan badan, atau kontradiksi antara subjek dan objek, alam dan roh, yang terbatas dan yang tak terbatas. Hegel mengatasi masalah ini dengan mengangkat refleksi akan yang absolute itu ke taraf rasio atau intuisi intelektual. Di sini dia menggabungkan refleksi dan intuisi menjadi spekulasi filosofis.
Idealism Hegel
Jika seorang pemahat menyelesaikan patung batunya, kita mengatakan bahwa idenya sudah terwujud dalam kenyataan. Kita melihat batu itu sebagai realitas, namun, idealism melihat lain : ide dari pemahat itulah yang real, sedangkan batu yang sekarang berbentuk patung itu tak lain dari pada bentuk lain dari ide, yaitu ide yang menyatakan diri dalam bentuk patung. Jadi, patung itu bukan batu yang berbentuk patung batu. Dengan kata lain, idea pemahat mem-batu.
Sekarang bayangkan Allah sebagai pemahat, maka alam dan masyarakat adalah patung batu itu, isi pikiran Allah yang diungkapakan ke luar. Bayangan ini menolong tapi tidak tepat, karena idealism membayangkan Allah dan alam itu satu dan sama. Artinya, pemahat yang agung itu menjelma sendiri menjelma menjadi patung batunya. Patung batu agung ( yang adalah roh ) yang mengasingkan diri dari dirinya sendiri.
4. POSITIVISME
Filasafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Segala uraian dan persoalan yang di luar apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampikan. Oleh karena itu metafisika ditolak. Apa yang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak, segala gejala.
Filsafat Positivisme diantarkan oleh AUGUST COMTE ( 1798-1857 ) yang dilahirkan di Montpelir pada tahun 1798 dari keluargapegawai negeri yang beragama Katholik. Karyanya yang pokok, yang sistematis adalah cours de philosophie positive’ atau ‘tentang kursus tentang filsafat positif yang diterbitkan dalam 6 jilid.
Merutu Comte, perkembangan pikiran manusia belangsung tiga tahap, yaitu zaman teologi, zaman metafisis dan zaman ilmiah atau positif.
Pada zaman teologis orang mengarahkan rohnya kepada hakekat batiniyah segala sesuatu, kepada sebab pertama dan tujuan terakhir segala sesuatu.
Zaman kedua, yaitu zaman metafisika,sebenarnya hanya mewujudkan sebuah perubahan saja dari zaman teologis. Sebab kekuatan yang adikodrati atau dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan yang abstrak, dengan pengeertian-pengertian atau dengan pengada-pengada yang lahiriah, yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum yang disebut alam dan yang dipandang sebagai asal penampakkan atau gejala yang khusus.
Zaman positif adalah zaman ketika orang tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun pengenalan metafisis.
5. MATERIALISME
Pada abad ke-19 ini timbul juga aliram materialism di dalam filsafat Jerman. Yang memberi dorongan pertama adalah LUDWIG FEUERBACH ( 1804-1872 ) salah seorang dari sayap kiri pengikut Hegel.
Menurut Feuerbach, hanya alamlah yang ada. Oleh karena itu manusia adalah makhluk alamiah. Segala usahanya hanya didorong oleh nafsu alamiahnya, yaitu doeongan untuk hidup. Yang penting bagi manusia bukanlah akalnya, tetapi usahanya, sebab pengetahuan hanya alat sebagai penghantar keberhasilan manusia. Kebahagiaan manusia ini dapat dicapai di dunia. Oleh karena itu agama dan metafisika harus ditolak
Ia mengkritik agama, menurut dia agama timbul keluar dari hakekat manusia sendiri, yaitu sifat egismenya , dari pendambaanya terhadap kebahagiaan. Apa yang tidak ada pada dirinya sendiri, tetapi yang didambakan manusia, digambarkan sebagai kenyataan yang ada padapara dewa. Oleh karena itu para dewa hanya keinginan manusia, yang digambarkan sebagai benar-benar ada, dan yang digambarkan menjelma pada diri tokoh-tokoh yang sama.
KARL MARX ( 1818-1883 )
Orang lain yang termasuk sayap kiri Hegel adalah KARL MARX ( 1818-1883 ), yang semula belajar di Bonn dan kemudian di Berlin . di Belrlin ia terpikat dengan filsafat Hegel. Semula ia bekerja sebagai wartawan , kemudian pindah ke Paris, tempat ia bertemu dengan Friendricht Engels ( 1820-1895). Atas bantuannya ini Marx bisa melanjutkan karya ilmiyahnya.
Pokok karya Marx adalah das capital, atau capital yang bagian pertamanya ditulis pada tahun 1867 yang lainnya tidak diselesaikan karena sibuk dengan organisasi.
Pangkal pemikran Marx adalah ajaran Hegel, kemudian digabungkan dengan filsafat Feuerbach, teori refolusioner perancis, yakni terutama gagasan-gagasan para sosialis utopis dan juga pandangan-pandangan ekonomi Negara inggris yang klasik.
Filsafat Marx disebut materialism yang historis, atau materialism yang dialektis. Menurut materialism, materi sajalah yang nyata. Di dalam kehidupan kemasyarakatan satu-satunya yang nyata adalah adanya masyarakat. Kesadaran manusia, yaitu idea-ideanya, teori-teorinya, pandangannya dan lain sebagainya hanya mewujudkan suatu gambar cermin dari apa yang nyata.
Ada dua factor yang bekerja pada produksi barang-barang :
1) Kekuatan-kekuatan material yang produktif, yaitu material yang kasar, alat-alat produksi kecepatan bekerjadan pengalaman bekerja penduduk.
2) Nisbah-nisbah produksi, yaitu nisbah-nisba antara para manusia dalam berproduksi itu.
Yang mendorong bagi semmangat Marx yang luar biasa dan yang dapat menjiwai zaman sesudah dia adalah ini, bahwa ia menghubungkan cara berpikir Hegel dan cara berpikir Feurbach, yang disertai keharusan yang mendalam terhadap keadaan social. Materialism yang diajarkan Marx adalah lebih dalam dibandingkan dengan yang diajarkan oleh paramaterialis yang ilmiah pada waktu itu.
Yang penting bagi Marx adalah menjelaskan sejelas-jelasnya kepada umat manusia kea rah mana sejarah pasti akan bergerak. Gerak sejarah yang pasti ini disebabkan oleh gerak yang telah digerakkan oleh manusia itu sendiri.
6. PENOMENOLOGI
Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani fenomenon, yaitu suatu yang tampak,yaitu terlihat karena bercahaya,yang di dalam bahasa Indonesia disebut gejala. Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan Fenomena, atau segala sesuatu yang menampakkan diri.
Pelopor filsafat fenomenologi adalah EDMUND HUSSEL (1859-1938). Ia dilahirkan di Prosswitz pada tahun 1859. Semula ia belajar ilmu pasti di Wina, tetapi kemudian ia berpindah studi ke filsafat. Berturut-turut ia menjabat guru besar di Universitas Hale, Gottingen dan Freiburg.
Menurut Husserl hukum-hukum logika yang memberi kepastian, yang berlaku tidak mungkin bersifat a posteriori, sebagai hasil pengalaman tetapi bersifat a priori. Upmamanya asas pemikiran yang berbunyi : A tak mungkin sekaligus A dan bukan A, artinya tidak mungkin bahwa jikalau A adalah A, maka sekaligus A dan bukan A. asas pemikiran ini tetap berlaku , juga seandainya tidak ada seorangpun yang memikirkannya. Hal ini sama dengan kenyataan , bahwa 2 x 2 = 4. Juga seandainya tidak ada seorang pun yang menghitungnya, patokan itu tetap berlaku, pasti.
Dari apa yang dikemukakan di atas tampak juga bahwa hukum-hukum logika tidak mengungkapkan bagaimana orang harus berpikir. Demikianlah logika memiliki bidangnya sendiri, yaitu arti. Jikalau kita menangkap suatu pengertian atau suatu pertimbangan, yang kita tangkap adalah artinya.
Dalam hal kehidupan, Russerl mengajarkan kepada agar kita selalu bergerak dengan sadar, dan semua yang Nampak tidak harus kita terima begitu saja, kita harus menerobos segala gejala yang menampakkan diri dan menuju kepada barangnya sendiri. Kita harus sampai kepada “ hakekat segala sesuatu”. Mengapa? Karena begitu banyak benda yang menampakkan di luar kita, namun kita tidak sepenuhnya memahaminya, kita hanya menerima begitu saja. Padal jika dilakukan penyelidikan lebih dalam maka kita akan menemukan hal-hal yang baru dalam penampakkan itu. Hanya penyelidikan yang dalamlah ditemukannya ragasia listrik, atom dan lain sbagainya.
Namun bagaimana kita dapat mencapainya?
Usaha untuk mencapai hakekat adalah reduksion, reduksi, atau “penyaringan”. Husserl mengemukakan tiga macam reduksi atau penyaringan, yaitu : reduksi fenomenologis, reduksi eidetis dan reduksi transedental.
Di dalam reduksi fenomenologis kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud supaya mendapatkan fenomen dalam wujud semurni-murninya.
Setelah itu kita menerapkan reduksi yang kedua, ialah reduksi eidetis, penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos atau inti sari atau hakekat gejala atau fenomena. Jadi hasil reduksi kedua ialah “ penilikan hakekat”. Di sini kita melihat hakekat sesuatu. Inilah pengerian sejati.
Di dalam reduksi yang ketiga, yaitu reduksi transedental, yang harus ditempatkan di antara tanda kurung dahulu adalah eksistensi dan segala sesuatu yang tiada hubungan timbale balik dengan kesadaran murni, agar supaya dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada obyek sendiri, dengan kata lain , metode fenomenologi itu deterapkan kepada subyek sendiri dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.
Telah dikemukakan bahwa dunia yang Nampak kepada kita tidak dapat member kepastian, bahwa pengertian kita tentang realitas adalah benar. Dunia tidak dapat memberikan kebenaran kepada kita. Agar supaya ada kepastian akan kebenaran pengertian itu, menurut Hussserl, kita harus mencarinya dalam Erlebnisse, yaitu pengalaman yang dengan sadar.
7. EKSISTENSIALISME
Kata eksistensi barasal dari kata eks ( luar ) dan sistensi, yang ditunkan dari kata kerja sisto ( berdiri, menempatkan ). Oleh karena itu kata eksistensi diartikan : manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Ia dapa meragukan segala sesuatu kecuali satu yang pasti bahwa dirinya nyata.
Eksistensialisme adalah filasafat yang memandang segalaa gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Pada umumnya kata eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi di dalam filsafat eksistensialisme kata eksistensi memiliki arti khusus. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia. Cara manusia berada di dunia beda dengan cara berada benda. Benda-benda tidak sadar akan keberadaannya.
diambil dari buku filsafat barat